Mengapa Nginggris lalu Bagaimana Ngindonesia

Nging…gris. Kenapa harus nginggris? I am not, uh I don’t. Bagaimana intonasi yang tepat untuk mengucapkan pertanyaan, eh judul buku ini?

Xenoglosofilia: Kenapa harus Nginggris oleh Ivan Lanin adalah buku yang pertama kali saya beli bela-belain pesan melalui GramediaGo.
Apa pasal? Karena melalui toko Gramedia di kotaku tidak tersedia. Kurang lebih 2 tahun lamanya bolak-balik memeriksa katalog buku, saya akhirnya menyerah. Sempat terpikir hendak jastip ke teman yang keluar daerah. Berdasarkan informasi dari kicauan di Twitter, saya kemudian mencoba memesan buku ini melalui aplikasi tersebut, dengan bantuan pegawai Gramedia langsung. Setelah menanti kurang lebih seminggu, akhirnya buku tiba bertepatan dengan hari Natal di 2019.

Nampaknya saya masih perlu untuk memesan buku lainnya melalui aplikasi tersebut jika tidak tersedia di toko bukunya.

Saya baru tahu bahwa Xenoglosofilia adalah suatu kata atau lebih tepatnya suatu istilah. Awal mula membaca saya sempat menduga jika kata tersebut adalah suatu jenis virus atau penyakit kelainan jiwa.
Kenyataannya yang dimaksud adalah mengenai fenomena kecenderungan dalam berbahasa. Sesuatu yang sering saya pikirkan dan rasakan hanya saja sulit membahasakannya. Buku ini merupakan kumpulan tulisan beliau sehingga beberapa topik telah banyak dibahas di sumber-sumber lainnya.

Efek langsung setelah membaca buku ini: saya memasang aplikasi KBBI di gawai; membaca PUEBI lebih sering; dan tanpa disadari membangkitkan jiwa pedantis yang terpendam.
Hal yang paling kentara misalnya saya gampang kesal ketika membaca atau menemukan tulisan “sekedar” alih-alih “sekadar“. Rasanya tangan gatal sekali hendak mengubah atau sekadar menegur. Selain itu, juga timbul perasaan was-was apakah saya sudah menggunakan suatu kata dengan tepat. Semacam perasaan cemas ketika menggunakan bahasa Inggris, khawatir bila orang lain mendeteksi kesalahan gramatika.

Saya sendiri mengalami: seringkali lebih mudah mengungkapkan isi pikiran, maksud maupun ekspresi melalui tulisan atau ujaran dengan kosakata bahasa Inggris dibandingkan dengan diksi bahasa Indonesia. Sebabnya ya itu, kurang terbiasa dalam penggunaannya dan kurangnya penguasaan kosakata dalam bahasa sendiri. Apakah terlihat atau terdengar kebih keren ketika berbahasa Inggris? Entah. Menggunakan diksi bahasa Indonesia yang tidak umum, semisal mangkus dan sangkil atau swarabakti, pun mampu memunculkan perasaan jago berbahasa Indonesia.

Olehnya, agar terbiasa ngindonesia tanpa melulu nginggris, langkah nyata yaitu dengan banyak-banyak menggunakan diksi bahasa Indonesia. Tentu saja perlu pula mempelajarinya kembali kaidah-kaidah lebih dahulu. Belajar bahasa Indonesia tentu bukan hal baru bagi penutur asli. Mulai saja dulu dengan membaca buku sejenis ini.

Bahasa adalah sistem, dan sistem pasti berpola.

Ivan Lanin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s