Ramadan during outbreak

Marhaban ya ramadan 1441 H

So, never it comes to mind about observing a holy month under any sort of situation like this current outbreak. It gives me sort of bitter-sweet feeling, particularly during these recent rain moments.

After the list of positive C-20, here I come to another list with me, consists of positive vibes only.

ramadan no covid-19ramadan with covid-19
1. Eid’s outfit is ready to go.
2.
1. No reunion schedules.
2.
it’s custom, does it matter?

School is off(line)

It is now week 4 going to week 5 since schools’ days off started. My school eventually decided to do something with the teaching-learning process that has been being down. Students cannot attend school, the teacher cannot reach them out through the internet, the learning process cannot be held online, what can we do as the teachers at the school?

  • Week 1
    We were conducting mid-term exam on March 16. The local government issued a school policy which was closed for one week from March 18 to the end of March.

    I gave students tasks to be done at home for a week, class canceled the plan to watch a movie together after the test: it was Harry Potter 1.

  • Week 2-3
    The days-off was extended for next 2 weeks (2 weeks of self-isolation took effect) from April 1 and this is not April Fools.

    This is the beginning of school vacuum, in this situation I had nothing prepared for those 2 weeks, let alone students knew the issue.

  • Week 4
    I thought we would get back to school on Apr 15, so I had prepared some kinds of stuff to bring back with me and to cover the previous 2 weeks.
    It turned out that the day-off was extended, again, for the next 2 weeks.

    At this point, I lost track of counting the days.

    Unexpectedly, on Apr 13 the school was asked to start planning offline distance learning prep. As an experiment we will try for a 1-week schedule.
    The independent learning process will be starting approximately on Apr 20.

  • Week 5-6

    Ramadan already started from Friday last week, April 24. The offline package for students haven’t been delievered yet. I had them taken since before and assumed it would be received by students before ramadan. To this point I am hopeless that the material could reach out students right on time.


    There is a new policy issued now from the local education office that school days off will be extended again from April 29 to May 30. School hopefully will be started on 1 July.

  • Week7

    We visited students door to door on May 3.

SituationProblemsSolutions/Alternatives
No internet connection (go offline)Teachers cannot connect to students via online or any kind of available platform in social media, let alone teleconference thing.
Teachers of each subject must provide a package of handouts that will be delivered to students door to door, can’t ask Pos, JNE, etc.
(Did outbreak already reach the remote area as well? We perhaps will need full protection to do this).
Long distance teaching and learning processStudents may find it difficult to fully understand the assignment, moreover, they will not be able to directly ask the teacher if something is not understood.The handouts must include clear instructions within. (I’ll be providing sort of bilingual materials to anticipate this issue).
Students might not engage actively.1. The teacher asks for the involvement of parents to help and supervise students to ensure they stick to the assignments thoroughly. (How?)
2. The handouts prepare a questionnaire or other measuring instrument (what is it?) to appreciate and observe student involvement in this teaching and learning model.
3. Do you have any idea?
To sum up

(to be continued)

The doctor

It is kind of dilemma when I’m going to see the doctor. Favorite doctor is too far away from home, also her previous female assistant has changed to a male assistant. Meanwhile, actions that were carried out during the consultation felt uncomfortable if accompanied by a male assistant.

The doctor near the house had given me kind of a bad first impression. Yes, it is nearby home plus without an assistant who can cause a clumsy situation. The bad impression tho, such pain in the neck.
Regarding the cost, it’s just the same. Nonetheless, this has put me in confuse still. The situation of choosing like this is pretty frustrating. Say if there is no choice, such as only one doctor I can go, it might be still confusing because of other reasons as well.

I am too afraid to go see the doctor yet I need help. What a situation!
You, which one will you have of these options above?

Habits: The way you start

Pukul 3 dini hari alarm di lampu tidur berbunyi berulang sebanyak 4 kali sesuai pengaturan. Menguatkan diri bangkit dari tidur, saya meraih sebotol air mineral meneguknya hingga habis. Kemasan air 330ml sekali minum menyegarkan tenggorokan sekaligus mengembalikan kesadaran. Hm, ada manis-manisnya. Kemudian saya beranjak ke kamar mandi terdekat dari kamar. Cuaca subuh ini tidak dingin, sehingga air wudhu yang menyentuh kulit tidak sampai menyebabkan gigil.

Mulai hari ini saya bertekad akan bangun salat malam. Kemudian dilnjutkan dengan tadarrus alquran. Pendeknya, saya tidak akan tidur setelah salat. Dengan demikian saya akan lanjut hingga salat subuh. Setelah salat subuh pun tidak tidur, disambung dengan zikir pagi. Setelah itu pun jangan beranjak dulu hingga salat dhuha. Idealnya demikian. [Eh, lama ding, dari salat subuh ke dhuha. Apa sebaiknya mandi dan sarapan pagi terlebih dahulu?]

Rencana ideal memulai pagi dengn serentetan ibadah tersebut telah lama saya agendakan, meskipun tidak dicantumkan sebagai resolusi 2020. Kenyataannya memulai suatu kebiasaan baru hampir sesulit mempertahankan kebiasaan lama. Ada saja rintangannya. Rasa malas sudah jelas adalah penyebab utama. Ditambah sikap suka menunda-nunda.

Hal pertama dari bertekad adalah menaklukkan diri dengan melawan rasa malas agar memulai membentuk suatu kebiasaan. Setelah dimulai pun masih harus dipertahankankan agar dilakukan terus-menerus tanpa putus sehingga ia menjadi suatu rutinitas.

Mulai saja dahulu. Kalau bukan saat ini, esok juga bisa. Eh, harus hari ini! Jika esok tak pernah datang maka kemarin adalah hari ini. Jadi, harus hari ini. Sekarang juga!

#9

Mengapa Nginggris lalu Bagaimana Ngindonesia

Nging…gris. Kenapa harus nginggris? I am not, uh I don’t. Bagaimana intonasi yang tepat untuk mengucapkan pertanyaan, eh judul buku ini?

Xenoglosofilia: Kenapa harus Nginggris oleh Ivan Lanin adalah buku yang pertama kali saya beli bela-belain pesan melalui GramediaGo.
Apa pasal? Karena melalui toko Gramedia di kotaku tidak tersedia. Kurang lebih 2 tahun lamanya bolak-balik memeriksa katalog buku, saya akhirnya menyerah. Sempat terpikir hendak jastip ke teman yang keluar daerah. Berdasarkan informasi dari kicauan di Twitter, saya kemudian mencoba memesan buku ini melalui aplikasi tersebut, dengan bantuan pegawai Gramedia langsung. Setelah menanti kurang lebih seminggu, akhirnya buku tiba bertepatan dengan hari Natal di 2019.

Nampaknya saya masih perlu untuk memesan buku lainnya melalui aplikasi tersebut jika tidak tersedia di toko bukunya.

Saya baru tahu bahwa Xenoglosofilia adalah suatu kata atau lebih tepatnya suatu istilah. Awal mula membaca saya sempat menduga jika kata tersebut adalah suatu jenis virus atau penyakit kelainan jiwa.
Kenyataannya yang dimaksud adalah mengenai fenomena kecenderungan dalam berbahasa. Sesuatu yang sering saya pikirkan dan rasakan hanya saja sulit membahasakannya. Buku ini merupakan kumpulan tulisan beliau sehingga beberapa topik telah banyak dibahas di sumber-sumber lainnya.

Efek langsung setelah membaca buku ini: saya memasang aplikasi KBBI di gawai; membaca PUEBI lebih sering; dan tanpa disadari membangkitkan jiwa pedantis yang terpendam.
Hal yang paling kentara misalnya saya gampang kesal ketika membaca atau menemukan tulisan “sekedar” alih-alih “sekadar“. Rasanya tangan gatal sekali hendak mengubah atau sekadar menegur. Selain itu, juga timbul perasaan was-was apakah saya sudah menggunakan suatu kata dengan tepat. Semacam perasaan cemas ketika menggunakan bahasa Inggris, khawatir bila orang lain mendeteksi kesalahan gramatika.

Saya sendiri mengalami: seringkali lebih mudah mengungkapkan isi pikiran, maksud maupun ekspresi melalui tulisan atau ujaran dengan kosakata bahasa Inggris dibandingkan dengan diksi bahasa Indonesia. Sebabnya ya itu, kurang terbiasa dalam penggunaannya dan kurangnya penguasaan kosakata dalam bahasa sendiri. Apakah terlihat atau terdengar kebih keren ketika berbahasa Inggris? Entah. Menggunakan diksi bahasa Indonesia yang tidak umum, semisal mangkus dan sangkil atau swarabakti, pun mampu memunculkan perasaan jago berbahasa Indonesia.

Olehnya, agar terbiasa ngindonesia tanpa melulu nginggris, langkah nyata yaitu dengan banyak-banyak menggunakan diksi bahasa Indonesia. Tentu saja perlu pula mempelajarinya kembali kaidah-kaidah lebih dahulu. Belajar bahasa Indonesia tentu bukan hal baru bagi penutur asli. Mulai saja dulu dengan membaca buku sejenis ini.

Bahasa adalah sistem, dan sistem pasti berpola.

Ivan Lanin