Habits: The way you start

Pukul 3 dini hari alarm di lampu tidur berbunyi berulang sebanyak 4 kali sesuai pengaturan. Menguatkan diri bangkit dari tidur, saya meraih sebotol air mineral meneguknya hingga habis. Kemasan air 330ml sekali minum menyegarkan tenggorokan sekaligus mengembalikan kesadaran. Hm, ada manis-manisnya. Kemudian saya beranjak ke kamar mandi terdekat dari kamar. Cuaca subuh ini tidak dingin, sehingga air wudhu yang menyentuh kulit tidak sampai menyebabkan gigil.

Mulai hari ini saya bertekad akan bangun salat malam. Kemudian dilnjutkan dengan tadarrus alquran. Pendeknya, saya tidak akan tidur setelah salat. Dengan demikian saya akan lanjut hingga salat subuh. Setelah salat subuh pun tidak tidur, disambung dengan zikir pagi. Setelah itu pun jangan beranjak dulu hingga salat dhuha. Idealnya demikian. [Eh, lama ding, dari salat subuh ke dhuha. Apa sebaiknya mandi dan sarapan pagi terlebih dahulu?]

Rencana ideal memulai pagi dengn serentetan ibadah tersebut telah lama saya agendakan, meskipun tidak dicantumkan sebagai resolusi 2020. Kenyataannya memulai suatu kebiasaan baru hampir sesulit mempertahankan kebiasaan lama. Ada saja rintangannya. Rasa malas sudah jelas adalah penyebab utama. Ditambah sikap suka menunda-nunda.

Hal pertama dari bertekad adalah menaklukkan diri dengan melawan rasa malas agar memulai membentuk suatu kebiasaan. Setelah dimulai pun masih harus dipertahankankan agar dilakukan terus-menerus tanpa putus sehingga ia menjadi suatu rutinitas.

Mulai saja dahulu. Kalau bukan saat ini, esok juga bisa. Eh, harus hari ini! Jika esok tak pernah datang maka kemarin adalah hari ini. Jadi, harus hari ini. Sekarang juga!

#9

Menulis Tiap Hari — nan tak (kalah) penting

Resolusi utama saya untuk tahun 2020 adalah menulis tiap hari. Iktikad itu muncul karena saya ingin memperlancar penuangan gagasan ke dalam tulisan. Saya merasa selama ini proses tersebut tidak saya lakukan dengan serius. Sama seperti keterampilan lain, kepiawaian menulis perlu selalu diasah.

Menulis Tiap Hari — nan tak (kalah) penting

Kata kunci: Resolusi; 2020; menulis; tiap hari.

Bersamaan dengan timbulnya kembali niat untuk memulai perbaikan kemampuan menulis dan meningkatkan pemahaman bahasa Indonesia, saya menemukan akun Twitter Ivan Lanin dan mulai mengikuti cuitannya sejak tahun 2018. Kemudian setelah mengetahui beliau menulis buku Xenoglosofilia, saya pun membelinya. Buku terbaik, versi saya, menutup 2019 dan mengawali 2020.

Sebelumnya saya sedang berlatih writing dibimbing seorang mentor orang Australia. Beliau menganjurkan untuk berlatih menulis nan sangkil dan mangkus dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu. Mungkin beliau bisa melihat saya cenderung mengalami kesulitan untuk menulis secara luwes. Menurut beliau jika kita terbiasa mengekspresikan ide pada tulisan dalam bahasa ibu, maka menulis menggunakan bahasa lain tidak akan terlampau sulit pengembangannya. Padahal dulu terasa saya bisa menulis, deh.

Awalnya saya tidak kepikiran untuk serius mengikuti saran tersebut. Hingga pada suatu titik saya menengok grafik, contoh bahan menulis kala itu, dan menemukan kesulitan menuangkan ide. Kesulitan tersebut bukan hanya dalam bahasa Inggris, bahkan dalam bahasa Indonesia. Kemampuan berbahasa saya, lahir dan batin, terasa sangat payah.

Akhirnya saya memutuskan kembali ke nol: mempelajari banyak referensi dalam bahasa Indonesia dan kembali menulis sangkil dan mangkus di blog.

Selagi daring saya akan menulis dan menerbitkan di blog. Jika terputus, saya akan menulis di buku. Duh terdengar utopis sekali ya. Baru memikirkan menulis secara manual saja, bukannya mengetik di papan tombol, otot tangan sudah berontak.

Eits, saya sering kadang menulis di buku, kertas catatan, atau kertas apapun. Bahkan saya juga menulis di kertas pesan tempel. Setelah ditulis lantas lupa ditaruh di mana. Tidak ada tindak lanjut, ide pun berserakan di mana-mana. Tidak sangkil dan mangkus sekali ya.

Semangat!

#1