Others+

Menulis Tiap Hari — nan tak (kalah) penting

Resolusi utama saya untuk tahun 2020 adalah menulis tiap hari. Iktikad itu muncul karena saya ingin memperlancar penuangan gagasan ke dalam tulisan. Saya merasa selama ini proses tersebut tidak saya lakukan dengan serius. Sama seperti keterampilan lain, kepiawaian menulis perlu selalu diasah.

Menulis Tiap Hari — nan tak (kalah) penting

Kata kunci: Resolusi; 2020; menulis; tiap hari.

Bersamaan dengan timbulnya kembali niat untuk memulai perbaikan kemampuan menulis dan meningkatkan pemahaman bahasa Indonesia, saya menemukan akun Twitter Ivan Lanin dan mulai mengikuti cuitannya sejak tahun 2018. Kemudian setelah mengetahui beliau menulis buku Xenoglosofilia, saya pun membelinya. Buku terbaik, versi saya, menutup 2019 dan mengawali 2020.

Sebelumnya saya sedang berlatih writing dibimbing seorang mentor orang Australia. Beliau menganjurkan untuk berlatih menulis nan sangkil dan mangkus dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu. Mungkin beliau bisa melihat saya cenderung mengalami kesulitan untuk menulis secara luwes. Menurut beliau jika kita terbiasa mengekspresikan ide pada tulisan dalam bahasa ibu, maka menulis menggunakan bahasa lain tidak akan terlampau sulit pengembangannya. Padahal dulu terasa saya bisa menulis, deh.

Awalnya saya tidak kepikiran untuk serius mengikuti saran tersebut. Hingga pada suatu titik saya menengok grafik, contoh bahan menulis kala itu, dan menemukan kesulitan menuangkan ide. Kesulitan tersebut bukan hanya dalam bahasa Inggris, bahkan dalam bahasa Indonesia. Kemampuan berbahasa saya, lahir dan batin, terasa sangat payah.

Akhirnya saya memutuskan kembali ke nol: mempelajari banyak referensi dalam bahasa Indonesia dan kembali menulis sangkil dan mangkus di blog.

Selagi daring saya akan menulis dan menerbitkan di blog. Jika terputus, saya akan menulis di buku. Duh terdengar utopis sekali ya. Baru memikirkan menulis secara manual saja, bukannya mengetik di papan tombol, otot tangan sudah berontak.

Eits, saya sering kadang menulis di buku, kertas catatan, atau kertas apapun. Bahkan saya juga menulis di kertas pesan tempel. Setelah ditulis lantas lupa ditaruh di mana. Tidak ada tindak lanjut, ide pun berserakan di mana-mana. Tidak sangkil dan mangkus sekali ya.

Semangat!

#1

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s